1447 d.p.l.

“Bu, apa bisa dilakukan riset ke desa kami ini?”

Sontak mata kami melebar serempak. “Riseet?!”

“Iya, Bu,” lantang lelaki gondrong berkumis lebat itu menegaskan maksudnya.

“Maksudnya bagaimana, Pak?” terdengar nada Mbak Her memastikan apa yang terdengar oleh kami.

“Jadi begini, Bu..” lelaki itu mendapat angin untuk mulai bertutur. “Di desa kami ini, tidak sekali dua kali orang yang mau meninggal itu kakinya bengkak.

Bodoh-bodoh begini, saya ya mengamati to, Bu. Kok si itu kemarin kaki bengkak, terus meninggal. Besoknya, si anu kaki bengkak, terus meninggal. Begituuu terus, Bu.

Ya memang, namanya mati hidup itu sudah takdir ya, Bu. Tapi kok ya sama semua to cara meninggalnya.”

“Maksud saya, ” cepat-cepat ia menambahkan sambil tersenyum kikuk, “ada apa ya bu dengan orang di desa kami ini.. bisa ndak to diteliti? Diriset…”

***
Ha. Engkau tentulah tak tahu mengapa episode ini begitu istimewa untukku. Jika engkau tahu, tentulah engkau tak bertanya dalam hati, mengapalah remeh temeh begitu diceritakan kepada seluruh dunia?

Engkau tak membatin begitu? Haha. Syukurlah kalau aku salah. Semoga engkau memang tak bertanya-tanya betulan.

Ah, kau jadi lebih ingin tahu ya?

Baiklah, baiklah.. akan kuceritakan istimewanya episode ini. Duduklah yang tenang dan teruslah membaca. Tapi ijinkanlah aku bertanya dulu kepadamu. Satu hal saja.

Engkau pernah berjumpa dengan penduduk ketinggian? Yang tinggal di ratusan bahkan ribuan kilometer dari atas permukaan laut?

Belum?

Ah, jika belum seperti jawabmu itu, pastilah engkau bertanya-tanya terus tentang istimewanya episode ini. Tak bisa tidak. Dan sekarang, engkaupun mulai paham bukan, apa yang kumaksud?

**

Adalah ia, si lelaki berkumis lebat berambut gondrong itu, salah satu penduduk ketinggian itu. Seribu empat ratus sekian dari permukaan laut yang selalu akrab dengan udara berkabut. Dusun sederhana yang dikelilingi kebun sayuran dan hutan pinus berhektar-hektar.  Jauh dari hiruk pikuk kota, namun menyimpan gegar budaya yang mengintai diam-diam.

merbabu blog.png

Dan pagi itu, episode riset muncul di sela sesi bincang santai bersama warga ketinggian itu. Tidakkah itu istimewa menurutmu? R-i-s-e-t lho, bukan sekadar kenapa begini kenapa begitu. Berapa banyak penduduk ketinggian yang karib dengan kata itu? Riset.

—-

#ODOPfor99days

#day1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s