Gravida Syndrome #27

Ia mulai menggodaku.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia merasuki kesadaranku.

Membelai lembut, menjalari tiap senti isi kepalaku.

Aku mulai mendengus..

Susah payah melenyapkan pesonanya dari imajinasiku…

 

“Ibu Tiara…” penggilan dari pengeras suara itu membuatku otomatis bergerak ke meja perawat.

Aku langsung berdiri di penimbang badan digital di dekat pintu penyekat. 62 kilogram. Oke, bagus. Berat badanku sudah naik  lima kilogram dibanding pertama kali aku kemari. Aku lalu bergeser ke kursi di dekatnya. Alat pengukur tekanan darah sudah tersedia. Aku duduk dan menanti perawat mulai mengukur tekanan darahku.

Rumah sakit ini ramai benar hari ini. Ah, aku lupa. Ini hari Sabtu. Tentu banyak yang lebih memilih hari ini karena mungkin di hari yang lain mereka bekerja dari pagi sampai petang. Memilih ke sini sepulang dari kantor tentu terasa lebih melelahkan karena bisa dipastikan sampai di rumah lebih malam dari biasanya. Dan itu artinya rutinitas di rumah akan bergeser secara domino. Sama sepertiku.

Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Hari ini adalah kunjunganku kemari yang kesekian. Sebentar, kubuka dulu buku catatanku. Ah ya.. ini adalah kunjunganku yang ke tujuh. Aku mulai hafal sudut-sudut rumah sakit ini. Aku mulai paham alur perjalanan pasien dari masuk sampai pulang. Dan aku mulai akrab dengan bau rumah sakit ini.

“Ibu, tensinya tinggi sekali…” suara perawat menegurku.

Eh? Aku memasang muka terkejut.

“Iya, Bu.. tensi ibu 140/90,” ia menegaskan.

Deg. Aku membeku seketika.

“Lalu bagaimana, sus?”  Entah mengapa aku otomatis meminta pendapat perawat yang kupanggil suster itu.

“Ibu periksa saja dulu dengan dokter ya. Nanti dicek lagi setelah periksa,” profesional sekali ia menjawab pertanyaanku. Baiklah. Aku menurut dan beringsut kembali ke kursi tunggu pasien. Hatiku kacau.

**

 Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Kali ini adalah kehamilanku yang pertama. Biasanya, suamiku menemaniku mengikuti anti natal care – ANC – ke rumah sakit ini. Tapi kali ini, aku datang sendiri. Ia mendapat jadwal piket yang tak bisa ditinggalkan. Dan ternyata, sekacau ini hatiku bertemu kenyataan. Sindrom kehamilan nomor dua puluh lima: ANC tanpa ditemani suami. Gravida Syndrome #25.

Tekanan darahku setinggi itu. 140/90 mmHg.

Ini adalah kondisi yang berbahaya dalam kehamilan. Berbahaya untuk ibu hamil maupun kehamilan itu sendiri. Aku tahu benar itu. Buku panduan kehamilan pemberian suamiku gamblang memaparkan segala rupa tentangnya. Pertumbuhan janin terhambat, prematur, absupsio placenta alias plasenta lepas dari dinding rahim sebelum masanya, preeklampsia alias janin keracunan, dan sederet akibat tekanan darah tinggi saat hamil berputar-putar di kepalaku.

Dan sekarang aku mengalaminya, saat aku ANC sendiri saja. Sungguh, hatiku sangat kacau.

Aku masuk ruang praktek dengan hati sekacau itu. Syukurlah, dokter Fifi menyapaku seramah biasanya. Tentu air mata yang siap membuncah dan hidung yang memerah sudah menjelaskan banyak hal baginya. Pasiennya sedang kacau.

**

Ruang Staf Administrasi Akademik Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 14.00 WIB.

Pekerjaan rutin sudah menipis. Angin siang berhembus sepoi-sepoi dari jendela loket yang berbatasan langsung dengan koridor Gedung Rektorat. Penyejuk udara tidak pernah berlaku untuk posisi di depan koridor yang mulai lengang ini. Angin Cendela menjadi satu-satunya penyejuk udara yang harus diterima dengan lapang dada.

Beranjak ke pekerjaan ekstra yang bakalan menguras konsentrasi. Si kecil dalam perut sesekali menggeliat lembut, ikut merasakan suasana siang yang terlalu tenang ini. Aku menekuri meja kerja dan setumpuk berkas yang menjadi bahanku menyusun buku panduan. Sesekali terdengar suara staf Tata Usaha bercakap-cakap menjeda siang. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Semua bekerja dengan gaya masing-masing.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ia merasuki kesadaranku.

Membelai lembut, menjalari tiap senti isi kepalaku.

Aku mulai mendengus..

Susah payah melenyapkan pesonanya dari imajinasiku…

Bau ini…

Si kecil dalam perutku rupanya merasakan pula hadirnya. Ia menendang beberapa kali, memberi tahuku. Aku mendengus beberapa kali. Mencoba mengusir godaannya dan memusatkan konsentrasi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin aku mendengus, semakin ia dalam merasuki kesadaranku.

Aku mendesah. Menyerah dan memilih menyandarkan punggung ke kursi putarku. Bau ini nikmat sekali. Sulit benar aku mengabaikannya. Pekat, hangat, dan ligat. Bau kopi yang diseduh. Sindrom kehamilan nomor dua puluh tujuh akhirnya datang juga. Gravida Syndrome #27: ngidam minum kopi.

Aku bukan penganut ngidam. Maksudku, ngidam yang sampai lebay bajay tidak masuk akal dan cenderung terkesan dibuat-buat. Pernah dengar ibu hamil ngidam buah mangga muda yang sama sekali tidak sedang musim? Atau ibu hamil yang ngidam sate Madura jam dua dini hari? Bukan, aku bukan ibu hamil seperti itu. Bahkan, sampai kehamilanku yang masuk trimester akhir ini, aku tidak mengalami kepingin yang aneh-aneh seperti itu. Aku patut bersyukur karena dengan posisi suamiku di luar kota, ngidam aneh-aneh justru membuatku mati kutu sendiri bukan?

Tapi sindrom nomor dua puluh tujuh ini berbeda. Pesonanya sulit untuk kutepis begitu saja. Gemulai aromanya menggelitik syaraf-syaraf pengecapku. Aku mau merasainya. Sungguh, aku sangat ingin merasainya…

Mataku menjelajah mencari tahu sumber bau itu. Dan rupanya tak jauh dari meja kerjaku. Mbak Fiel sedang menyeduh kopi kesukaannya. Kopi ABC Susu yang memang jadi favorit orang seruangan. Perpaduan kopi, gula, dan krimernya menurutku paling nendang di kelasnya. Serasa melayang, aku menyambanginya.

“Mbak Fiel, icip kopinya dong…” aku merayu.

“Eh Tiara kan lagi hamil.. nggak boleh yaa,” berjengit Mbak Fiel melihatku.

“Aih, bolehlah… sedikiiiit saja,” sempurna aku terbius keharuman kopi itu.

Mbak Fiel tertawa, “Tiara lupa ya sama tekanan darah?”

Aku mendengus. Kali ini bukan karena mengusir bau kopi, tapi mengusir kenangan ANC dengan tekanan darah 140/90 mmHg yang mengacaukan hatiku tempo hari. Memang sih, kopi bisa menyumbang peran menaikkan tekanan darah lewat kafeinnya. Tapi, bukannya aku Cuma merayu icip sedikit saja?

“Mbak Fiel, aku kan Cuma minta icip sesendok saja,” godaan kopi itu sungguh luar biasa merasukiku. Baunya yang khas telah sempurna lekat dalam memoriku. Pantang berkopi selama hamil telah melipatgandakan efek belaian bau kopi siang itu.

“Tiara, hamil lho…” tawa Mbak Fiel terdengar makin menggodaku untuk menaklukkan kopi itu.

“Gak apa, Mbak Fiel..

Mbak Fiel nggak tahu ya? Kopi bisa menjaga stamina ibu hamil macam aku. Menambah energi lho..”

Mbak Fiel mulai mengangkat alisnya.

“Belum lagi, kopi bisa meningkatkan konsentrasi juga,” aku buru-buru menambahkan. “Terus membantu menjaga mood biar tetap bagus. Bisa juga buat menormalkan gula darah ibu hamil. Bahkan justru menormalkan tekanan darah juga, Mbak.”

“Walah… Tiara ini bisa aja,” Mbak Fiel makin tertawa mendengar cerocosku.

“Eh beneran, Mbak Fiel..” aku menandaskan. Demi sesendok kopi itu, aku tak peduli kalau perjuanganku terlihat lebay. “Ini hasil penelitian lho, Mbak..Fakta.. Fakta ilmiah!”

“Hahaha.. penelitian dari mana?” Mbak Fiel masih teguh menolak rayuan sendokku. Satu dua kepala di ruangan mulai melongok ingin tahu keributan kecil perkara kopi ini.

“Sini, sini.. aku kasih lihat sumbernya!” Aku menyeret Mbak Fiel ke komputernya. Kubuka mesin pencari dan kuketikkan kata kunci: penelitian ibu hamil dan kopi. Ha, Mbak Fiel pasti tak berkutik. Aku menyeringai puas.

Dalam hitungan sepersekian detik, mesin pencari membeberkan judul-judul terkait penelitian kopi dan ibu hamil. Tak hanya puluhan.. RATUSAN! Kusorongkan monitor ke Mbak Fiel. Sendok kecilku menari-nari di cangkir kopinya. Hidungku mengendus-endus.

Cepat Mbak Fiel membaca salah satu judul teratas dan dia tertawa makin keras. “Tiaraaa… ini kan nggak ilmiah. Semuanya Cuma bilang penelitian, penelitian, penelitian. Penelitian siapa? Kapan? Di mana? Nggak ada tuh kepastian info ini valid,” belum menyerah rupanya ia.

“Nih, coba Tiara yang baca sekarang deh,” ganti Mbak Fiel menyorongkan monitor padaku. “Ini baru ilmiah, “ tegasnya.

Rupanya ia memakai jurus yang sama untuk menggagalkan invasi sendokku ke cangkirnya. Jurus mesin pencari.

Saat hamil, banyak ibu yang selektif dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi. Namun, bagi ibu hamil pecinta kopi, tak perlu khawatir mengonsumsinya karena tak akan memengaruih IQ anak seperti diungkapkan dalam studi terbaru. Namun perlu diingat, jumlah yang diperkenankan maksimal dua cangkir per hari. 

Dalam studi yang dilakukan ilmuwan Ohio State University College of Medicine, tidak ditemukan kecerdasanan intelektual anak yang lahir dari ibu yang konsumsi kopi saat hamil turun seperti dikutip dari laman Live Science, Selasa (24/11/2015).

Tidak ada bukti bahwa konsumsi kafein selama kehamilan berdampak negatif pada kecerdasan intelektual maupun perilaku saat anak berusia 4-7 tahun seperti ditulis peneliti dalam studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology.

“Secara keseluruhan, kami menemukan ibu hamil yang konsusmi kopi secara moderat yakni maksimal dua cangkir kopi setiap hari tidak berdampak pada kecerdasan intelektual anak,” terang asisten profesor pediatrik yang juga salah satu peneliti studi ini, Sarah Keim.

Ini bukan studi pertama yang menunjukkan konsumsi kopi secara moderat aman untuk dikonsumsi. Sebelumnya, di tahun 2012 menemukan konsumsi kafein saat hamil tidak memiliki hubungan dengan kebiasaan anak terbangun di malam hari.

Lalu, menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, konsumsi kafein kurang dari 200mg per hari, atau sekitar satu atau dua cangkir kopi per hari aman selama kehamilan. Namun, efek konsumsi kafein dalam jumlah lebih besar belum ditemukan dengan jelas.[1]

Antara senang dan bingung, aku memandang Mbak Fiel yang tersenyum lebar.

“Jadi?” aku meminta keputusan.

“Sesendok?” ia balik bertanya.

Aku mengangguk-angguk bersemangat. Sendokku ikut mengangguk-angguk. Si kecil di perutku ikut menendang-nendang.

“Tentulah boleeeh,” puas sekali Mbak Fiel mengerjaiku.

**

Namaku Tiara. Tahun ini umurku 26 tahun. Kali ini adalah kehamilanku yang pertama. Kami ingin menikmati setiap detiknya. Maka terciptalah Gravida Syndrome. Sindrom kehamilan a la kami. Ini adalah kisahnya yang ke-27.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] http://health.liputan6.com/read/2372577/ibu-hamil-ternyata-boleh-minum-kopi

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Iklan

Buku Anak Pilihan: Matahari

Benda langit selalu menjadi obyek rasa ingin tahu yang besar untuk anak-anak. Mereka akan melihat dengan mata berbinar penuh rasa ketakjuban dan jika terkondisikan dengan baik, meraka akan memberondong kita — orang tuanya — dengan pertanyaan yang tak ada habisnya.

Anak saya begitu maasya allah.

Menggeser rasa penasarannya ke buku adalah salah satu jurus untuk membantunya mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul. Termasuk soal benda langit. Matahari, salah satunya.

Menemukan buku ini untuk menjawab pertanyaannya atau sekadar menjadikan buku pengantar tidur merupakan kebahagiaan tersendiri. Buku ini lebih cocok untuk anak usia sekolah dasar sebenarnya. Jikapun dibacakan ke anak usia PAUD maka orang tua atau pendamping diharapkan peran aktifnya menjelaskan berbagai ilustrasi menarik dalam  buku ini. Bagi anak usia PAUD, ilustrasi buku ini memang memancing rasa ingin tahu dan berbagai pertanyaan seputar matahari.

Hal yang menjadi catatan saya, halaman awal buku ini menceritakan tentang mitos matahari dalam berbagai budaya. Mempertimbangkan bahwa anak usia PAUD adalah masa emas untuk menancapkan aqidah yang lurus, maka halaman ini hanya saya bacakan judulnya saja. Lalu bergeser ke halaman berikutnya. Alhamdulillah sejauh ini si sulung lebih tertarik mendengar ibunya membacakan halaman-halaman selanjutnya.

mata

Disajikan full color dengan kertas art paper 100, buku ini dilengkapi beberapa percobaan menarik dan sederhana terkait matahari. Kata-kata sulit juga diberikan penjelasan khusus di halaman akhir buku.

Judul: Menjelajah Ruang Angkasa: Matahari
Penulis: Paulette Bourgeois
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo (2002)
Jumlah halaman: 33
Tema: Alam Semesta (Semester II)
Sentra: Sains

#ODOPfor99days
#day10

 

Genre, Sebuah Pencarian

Novel ternyata bukan genre yang saya enjoy menuliskannya. Meskipun berangkat dari suatu peristiwa yang berkesan, tuturan novel rupanya masih membuat kening berkerut. Analisa saya, rasanya lebih karena penyelaman yang kurang hening kepada para karakter yang tercipta. Hasilnya… kaku.

Mengikuti tantangan menulis rutin setiap hari di grup ODOP for 99 days membuat saya belajar mengenali diri lebih jauh. Sama-sama menulis, namun diferensiasinya memang banyak. Dari soal genre, tema, sampai teknis. Tapi sekali lagi, rumus dasarnya rupanya masih sama. Semakin banyak mencoba hal baru, maka pemaknaan yang timbul akan semakin dalam. Soal genre tadi, salah satunya.

Karenanya, maafkanlah saya yang akan menamatkan episode penduduk ketinggian bab 1, bab 2,dan pengantar bagian 1 yang saya publish di blog ini. Sudah tamat sajalah. Bukan genre saya. Setidaknya untuk saat ini. Entah nanti jika ternyata pertapaan saya mengantar jiwa menulis yang lebih novelis. Haha

**
Tenang, saya tidak berhenti dari tantangan menulis itu kok. Hanya ganti persneling saja. Tunggu saja ceritanya 😀

#ODOP for 99 days
#Day4

Jie

Banyak orang menjalani hidup tanpa arti. Mereka seperti setengah tidur, bahkan saat mereka sibuk melakukan hal-hal yang mereka pikir penting — sangat penting. Ini terjadi karena mereka menggenggam hal yang keliru.

Jalan untuk mendapatkan pemaknaan hidup adalah mencurahkan diri untuk mencintai sesama, mengabdikan diri kepada komunitas di sekitarmu, dan mencurahkan diri untuk menciptakan sesuatu yang membuatmu memiliki tujuan dan makna diri.

-Mitch Alborn, Selasa bersama Morrie

‪#‎ODOPfor99days‬
#day3

Merbabu

…kebakaran yang terjadi di atas Desa Ngagrong, Kecamatan Ampel, dengan posisi titik api di ketinggian 2000 sampai 2.500 meter dari permukaan laut tersebut diperkirakan meluas dari 20 menjadi sekira 60 hektar pada Selasa, (29/9/2015) siang…

… Bukannya padam, api saat itu justru membesar hingga mencapai 12 titik api dengan panjang wilayah yang terbakar sekitar 20 kilometer…

Perlahan tapi pasti, berita-berita serupa mulai muncul di beranda Facebook dan diskusi di grup yang Jie ikuti. Menyelip di antara berita kebakaran hutan di pulau seberang yang sukses mengekspor asap ke negeri tetangga.

Jie melayangkan pandangannya jauh ke cakrawala. Gunung itu masih segagah dulu. Tinggi menjulang membentengi kota kecilnya. Dan ternyata benar, kepulan asap putih laksana awan membumbung di sisinya. Berita-berita itu ternyata benar.

Gunung itu memanggil Jie.

Tolong aku..

Merbabu terbakar.

***

Grup Whatsapp komunitas parenting kota Jie hari ini lebih ramai. Ada open recruitment relawan peduli Merbabu.

Tolong aku…

Suara itu kembali mengiang, membuat debaran adrenalin. Mendorong jemari Jie mengirimkan sebuah pesan singkat ke Roo, suaminya. Sepersekian detik pesan itu melesat ke jaringan mekanisme rumit skala satelit melintasi ruang bahkan sebelum mata selesai mengejap. Sent.

Lima menit kemudian, jawaban Roo masuk.

Boleh.

Dan sekali lagi,adrenalin itu melipatkan energi Jie untuk segera bergerak. Merapatkan pasukan, menyusun strategi, dan mulai berkolaborasi.

Tunggu kami ya..

peka fix

—-
#OneDayOnePostfor99Days
‪#‎ODOPfor99days
#Day2

 

 

1447 d.p.l.

“Bu, apa bisa dilakukan riset ke desa kami ini?”

Sontak mata kami melebar serempak. “Riseet?!”

“Iya, Bu,” lantang lelaki gondrong berkumis lebat itu menegaskan maksudnya.

“Maksudnya bagaimana, Pak?” terdengar nada Mbak Her memastikan apa yang terdengar oleh kami.

“Jadi begini, Bu..” lelaki itu mendapat angin untuk mulai bertutur. “Di desa kami ini, tidak sekali dua kali orang yang mau meninggal itu kakinya bengkak.

Bodoh-bodoh begini, saya ya mengamati to, Bu. Kok si itu kemarin kaki bengkak, terus meninggal. Besoknya, si anu kaki bengkak, terus meninggal. Begituuu terus, Bu.

Ya memang, namanya mati hidup itu sudah takdir ya, Bu. Tapi kok ya sama semua to cara meninggalnya.”

“Maksud saya, ” cepat-cepat ia menambahkan sambil tersenyum kikuk, “ada apa ya bu dengan orang di desa kami ini.. bisa ndak to diteliti? Diriset…”

***
Ha. Engkau tentulah tak tahu mengapa episode ini begitu istimewa untukku. Jika engkau tahu, tentulah engkau tak bertanya dalam hati, mengapalah remeh temeh begitu diceritakan kepada seluruh dunia?

Engkau tak membatin begitu? Haha. Syukurlah kalau aku salah. Semoga engkau memang tak bertanya-tanya betulan.

Ah, kau jadi lebih ingin tahu ya?

Baiklah, baiklah.. akan kuceritakan istimewanya episode ini. Duduklah yang tenang dan teruslah membaca. Tapi ijinkanlah aku bertanya dulu kepadamu. Satu hal saja.

Engkau pernah berjumpa dengan penduduk ketinggian? Yang tinggal di ratusan bahkan ribuan kilometer dari atas permukaan laut?

Belum?

Ah, jika belum seperti jawabmu itu, pastilah engkau bertanya-tanya terus tentang istimewanya episode ini. Tak bisa tidak. Dan sekarang, engkaupun mulai paham bukan, apa yang kumaksud?

**

Adalah ia, si lelaki berkumis lebat berambut gondrong itu, salah satu penduduk ketinggian itu. Seribu empat ratus sekian dari permukaan laut yang selalu akrab dengan udara berkabut. Dusun sederhana yang dikelilingi kebun sayuran dan hutan pinus berhektar-hektar.  Jauh dari hiruk pikuk kota, namun menyimpan gegar budaya yang mengintai diam-diam.

merbabu blog.png

Dan pagi itu, episode riset muncul di sela sesi bincang santai bersama warga ketinggian itu. Tidakkah itu istimewa menurutmu? R-i-s-e-t lho, bukan sekadar kenapa begini kenapa begitu. Berapa banyak penduduk ketinggian yang karib dengan kata itu? Riset.

—-

#ODOPfor99days

#day1

Sabtu Ekspresi #1: Basic English Club

Belajar dan terus belajar! Never ending learning…

Semangat menggebu itu kental menguar dalam sejuknya pagi di Lapangan Pancasila Salatiga. Berlari-lari kecil menyeberangi lapangan, saya bergegas menuju sekelompok bunda yang duduk bersila di area terbuka alun-alun kota Salatiga ini. Dari jauh, tangan-tangan itu melambai kepada saya, mengajak saya lebih bergegas. Sampai-sampai saya nyaris jatuh lintang pukang menabrak benang layangan yang digelar seorang anak di tengah lapangan. Hahaha

This is it.. para bunda berkumpul di Sabtu pagi hari itu untuk belajar bersama. Meruntuhkan dinding gengsi dan malu, bersama-sama maju menjadi pribadi yang baru. Pertemuan kali ini adalah tentang berani bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dengan percakapan sederhana. Sudah ada mbak Dewi, Mbak Imah, Mbak Titin, dan Mbak Harlin di sana. 

Ya, benar-benar percakapan  yang aplikatif dan sederhana, seperti “How are you?”, “I am fine, thank you”, “What is your name?”, dan seterusnya. Mbak Dewi selaku mentor telah berbaik hati membagikan daftar percakapan sederhana untuk mempermudah para bunda belajar. Para Bunda pun dengan semangat mencatat pelafalan setiap kalimat untuk memfasihkan percakapan. 

Basic English Club ini adalah salah satu acara yang idenya terlontar saat ujian kenaikan kelas Bunda Cekatan dan perpisahan dengan mentor bahasa Inggris kami beberapa waktu lalu. Mbak Imah sang empunya ide mengungkapkan usulan untuk membuat kelas ekspresi bahasa Inggris untuk mengakomodasi teman-teman yang ingin melanjutkan sesi bahasa inggris selepas Ibu Rasita Purba pindah ke luar kota. Usul ini disambut meriah dan langsung bermunculan usul lanjutan berupa pembagian kelas bahasa inggris menjadi Basic English, Kids English, Intermediate English, dan Advance English. Ada juga usulan untuk membuat Handycraft Class dan Cooking Class. Jadilah, Sabtu Ekspresi diresmikan dengan Mbak Dewi sebagai koordinator lapang. 

Semangat never ending learning ini benar-benar menjadi sumbu api gelora para bunda untuk terus bergerak meningkatkan kualitas diri dan keluarga. Para bunda di sini sudah memulai, bagaimana dengan para bunda di sana? Lets join us!!!

Bertemu dan praktek langsung dengan pakar di sebuah bidang memang sebuah keberuntungan tersendiri. Meskipun si pakar geleng-geleng kepala saat disebut pakar, setidaknya beliau jauh lebih berpengalaman dalam hal tersebut dibanding saya. Buat saya, itu sudah cukup untuk menyebutnya pakar.

Itulah yang saya dapati akhir pekan kemarin di Kuliah Umum Institut Ibu Profesional Kota Salatiga.  Ya, kami memang rutin mengadakan kuliah umum yang bertempat di School of Life Lebah Putih sebagai upaya mengakomodir semangat belajar para ibu dan (akhirnya merembet ke) para ayah yang luar biasa. Kali ini, saya belajar langsung dari Mas Hafez Achda, praktisi Paper Toys dari Jogja.

mas hafez

Hafez Acha, lahir di Temanggung tahun 1985.  Dari kecil menyukai permainan yang prosesnya dengan merakit dan sudah gemar berkreasi dengan kertas. Dengan latar belakang belajar seni rupa di Jogjakarta membuatnya semakin mencintai kertas sebagai bahan dasar karyanya, mulai dari melukis dengan media kertas, desainer pop up dan juga menjadi desainer paper craft.

Masih mempercayai bahwa kertas adalah media yang paling fleksibel karena kertas bisa menjadi apa saja, bisa dilipat, digunting, digambar, dibuat padat dan berbagai bentuk lain.  Rumusnya adalah 3M : Murah, Mudah (dibentuk), dan Mengasyikkan.

pop upBersama beberapa temannya mendirikan impian studio di jogja, sebuah studio kreatif yang bergerak mendayagunakan kertas sebagi media ekspresinya. buku yang sudah diterbitkannya adalah paper toys jilid 1-3. untuk berkomunikasi dengannya silakan kirim email ke impianstudio@gmail.com

kompak

Kami memang benar-benar diberi kesempatan membuat paper toys sendiri! Bahkan.. di akhir acara, kami diberi kesempatan membuat buku pop-up sederhana untuk menjawab rasa ingin tahu kami. Jurus itu benar-benar membuat seluruh peserta — para ibu, para ayah, para remaja, dan tentunya anak-anak — serius menekuri proyek masing-masing sampai tanpa terasa mendekati pukul 12. Terbukti benar, bahwa paper toys ini merupakan pilihan ativitas keluarga yang murah, mudah, dan mengasyikkan.

potluck

mejengMeskipun utak-atik paper toys terlihat penuh ketenangan, ternyata energi benar-benar terkuras untuk konsentrasi lho. Jamuan potluck yang disediakan panitia pun  dengan gembira diserbu peserta. Terima kasih banyak untuk seluruh peserta yang telah berbagi potluck pada Kuliah Umum kali ini. Tak hanya makanan kecil, buah hasil kebun senidri seperti rambutan dan kelengkengpun melengkapi hidangan potluck yang berderet-deret. Hidangan yang disajikan dengan apik dalam piring-piring bambu beralaskan daun pisang menambah segar meja potluck dan menyatu dengan suasana asri Lebah Putih.

mas tepeinteraktifAfterall, pagi yang diramalkan banyak orang akan diguyur hujan itu berakhir cerah, alhamdulillah. Setiap peserta membawa oleh-oleh paper toys hasil karyanya sendiri plus ada juga yang penasaran dengan pola-pola lain di buku Mas Hafez. Menjaga stand dadakan a la Mas Tepe, Sang Pimpinan Redaksi Indonesia Tera, pun mau tak mau dilakoni setelah di dalam aula Mas Tepe juga ikut maju ke depan. Seruuuu!

oleh-olehKuliah Umum Februari 2013 “Menjalin Ikatan Keluarga dengan Paper Toys” ini didukung oleh Mbak Imah dari Habib Collection dan Mbak Dwi Yunia Arti dari Marketing McDonald Jawa Tengah sebagai sponsor bingkisan untuk Mas Hafez, para peserta yang antusias dari awal hingga akhir plus membawa hidangan potluck yang melimpah, maupun Mr. Ow dan Kak Rini sebagai peserta bazaar. Special thanks to Mas Tepe dengan buku-buku kejutan doorprize-nya, semoga Penerbit Indonesia Tera makin jaya! 😀

Dukungan para donatur inventaris IIP Kota Salatiga (Bu Amin, Mbak Dian, Mbak Dewi, Mbak Neneng, Mbak Imah, dan Mbak Titin) benar-benar sangat membantu kelancaran peralatan kuliah umum kali ini. Terima kasih banyak juga untuk teman-teman di School of Life Lebah Putih yang luar biasa (Thanks Kak Rini, Kak Jo, Kak Titi, Kak Tyas, Pak Hadi, dan Pak Gi).

Apresiasi yang paling dahsyat tentu saya haturkan kepada tim panitia: Bu Ais (Penerima Tamu), Mbak Ula (Chief Bazaar), Mbak Umi (MC), Mbak Aini (Chief Potluck), dan Mbak Ria (Chief Clean Up). Semoga semangat teman-teman dalam belajar banyak hal baru dalam kepanitiaan dapat menjadi penambah semangat untuk terus belajar dan berani  menaklukkan tantangan apapun. Never ending learning!

doorprizetingkah bocahtanya jawabrame

BEST SELLER Penerbit: Tangis yang Mendadak Terbit

Kilasan status Facebook yang saya baca sore ini mendadak berhenti di satus mbak Betty Arianti. Salah satu kontributor buku antologi Ibu Profesional “Hei, Ini Aku: Ibu Profesional!” ini menulis:

Alhamdulillah, Buku “Hei, Ini Aku Ibu Profesional”, jadi salah satu best seller di leutikaprio……

Langsug saya meluncur ke web LeutikaPrio dan meng-copy halaman utamanya.

Subhanallah…

Sekali lagi, buku ini membuat saya gemetar hebat. Benar-benar gemetar dalam arti sebenarnya, teman. Dan.. saya menangis. Menangis di depan laptop dengan sendirinya. 

Kali ini, saya masa bodoh dengan istilah “saru”: nangis kok diceritain. 

Saya menangis membayangkan kilasan-kilasan wajah teman-teman kontributor buku yang sempat saya jumpai di Kuliah Umum Spesial @america Desember lalu. Raut wajah bangga karena memberikan hadiah buku kepada orang-orang terkasih mereka.

Saya menangis teringat kalimat demi kalimat yang masuk sebagai peserta lomba dulu. BEtapa kalimat-kalimat tersebut ditulis dengan cinta dan gemuruh yang luar biasa. Membulatkan tekad untuk membagi sisi muram kehidupan yang telah berhasil dimenangkan dan menadi mereka yang indah bermetamorfosa. Percayalah, sampai saat ini — meskipun sudah ditayangkan di web secara berkala oleh mbak Widi Astuti dengan telaten — saya masih sering mencuri waktu membaca satu per satu naskah yang masuk di meja redaksi dulu itu. Ada sesuatu di sana yang membuat saya ingin menyelami lagi dan lagi.

Saya menangis teringat teman-teman tim buku yang benar-benar rela bergadang di tengah aktivitas keseharian yang tentu telah menguras energi dan waktu mereka. Merelakan waktu yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk istirahat dan melepas penat. Larangan dokter pun dengan “patuh” mereka curi-curi untuk menyelesaikan proyek ini. Sungguh, salut luar biasa untuk Mbak Dian, Mbak Widi, dan Mbak Zainab. Semoga kera keras teman-teman menjadi shadaqah tersendiri dan dilimpahi pahala ya. Aamiin.

Dan.. saya menangis karena buku ini sendiri. Buku yang membuat banyak orang telah menangis, dengan alasan mereka masing-masing. Saya gemetar menyadari betapa dahsyat efek buku ini. 

Kalimat Bu Septi di sela-sela kuliah rutin Ibu Profesional yang saya ikuti dengan mata setengah watt dulu kembali terngiang. 

Tenang, Mbak.. Kerja kerasmu akan terbayar. 

Inikah salah satunya? Wallahu a’lam. 

Yang jelas, saya bersyukur dan berterima kasih telah diijinkan turut membidani buku yang hebat ini. BErsyukur dan berterima kasih karena telah dipertemukan kembali dengan Bu Septi setelah berpuluh tahun berlalu. BErsyukur dan berterima kasih telah berkesempatan resign dan bergabung dengan Institut Ibu Profesional. Sampai hari ini. 

*** 

Shared at web Ibu Profesional

#6 : Bye-Bye Office

Seorang kawan ngeblog, Pak Zhen, mengirim info ke saya. Katanya, tema lomba menulis kali ini sangat cocok dengan pengalaman saya. Ohya?

Benarlah, tema lomba ini memang sudah menggelitik. Bye-Bye Office. Sebuah kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh MIC Publishing dan ternyata benar-benar lomba. Naskah yang saya tulis harus diseleksi oleh dewan juri kemudian dibagikan kepada sebanyak mungkin teman agar inspirasi yang dibagi semakin luas. Lanjut ke penjurian tahap kedua. Barulah keputusan pemenang diumumkan. Dari sekian banyak naskah yang masuk, pada akhirnya hanya terpilih 15 naskah yang masuk cetak. Alhamdulillah, naskah saya yang berjudul “Yes, I am an (Entrepreneur) Momm” masuk di dalamnya.

Gambar

Even ini memperkenalkan saya dengan konsep reward online untuk para penulis berupa sertifikat dalam bentuk soft copy. Meski pengirimannya tertunda hampir satu tahun seusai lomba, saya merasakan efek positif yang luar biasa dengan adanya sertifikat tersebut. Beberapa finalis dan pemenang yang saya ajak memperjuangkan sertifikat tersebut tidak ada yang menyambut baik dan memandang tidak ada perlunya mendapat sertifikat. Syukurlah, akhirnya saya mendapat sertifikat indah untuk melecutkan semangat menulis saya dari waktu ke waktu. Saya berharap semua penulis buku ini pun telah menerima sertifikat dan merasakan manfaatnya. Setidaknya, ia bisa menjadi personal track record yang menambah kepercayaan diri kita sendiri.

Oiya, even ini juga memberikan saya tambahan koleksi buku karena saya mendapatkan dua buah  buku gratis yang inspiratif. Satu buku berjudul “Soup” dan satu buku berjudul “Make Today Count”. Sekali lagi, dunia membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisah, bahkan saling melengkapi.

GambarGambar

Buku Bye-bye Office dapat dipesan di sini yaa… ^_^